Detail kabar
Kembali
Guru Hanyalah Obat Nyamuk: Kritik untuk Sistem Pendidikan yang Membiarkan Akar Masalah Membusuk
Posted 1 hari yang lalu
Share

Ada sebuah kiasan pahit yang belakangan sering terdengar di kalangan pendidik: "Guru hanyalah obat nyamuk." Kalimat ini bukan sekadar sindiran ringan, melainkan potret frustrasi yang sudah lama terpendam. Di tengah perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, ketika lagu-lagu nasional berkumandang dan pidato tentang pendidikan bergema, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa guru kerap dijadikan tameng untuk menutupi akar masalah yang tidak kunjung dibenahi.

Memadamkan Asap, Bukan Mematikan Api

Apa maksud dari "obat nyamuk"? Dalam dunia pendidikan, guru sering kali diposisikan sebagai solusi instan atas segala persoalan. Kurikulum bermasalah? Yang disalahkan guru. Siswa tidak lulus ujian? Yang dievaluasi gurunya. Nilai literasi rendah? Guru diminta ikut pelatihan tambahan. Moral anak merosot? Guru dituding gagal mendidik karakter.

Padahal, guru hanyalah ujung tombak paling depan dari sebuah sistem yang jauh lebih besar dan kompleks. Mereka diminta memadamkan asap, sementara api pembakaran justru berasal dari dapur kebijakan yang tidak pernah dibenahi. Kurikulum yang ganti-ganti tanpa evaluasi mendalam, infrastruktur sekolah yang timpang, kesejahteraan yang tidak merata, hingga intervensi politik dalam pendidikan semuanya dibiarkan membara. Dan ketika asapnya mengepul, gurulah yang disuruh berdiri di depan sambil disalahkan.

Akar Masalah yang Terus Membusuk

Mari kita jujur sejenak. Selama bertahun-tahun kita menyaksikan kurikulum berganti dari KBK ke KTSP, lalu ke Kurikulum 2013, dan kini Kurikulum Merdeka. Setiap pergantian selalu dibungkus dengan narasi besar tentang kemajuan. Namun, seberapa sering guru dilibatkan secara sungguh-sungguh dalam perancangannya? Seberapa matang persiapan yang dilakukan sebelum kebijakan itu diturunkan ke lapangan?

Banyak guru yang mengaku kebingungan dengan istilah-istilah baru yang muncul tiba-tiba: Modul Ajar, Capaian Pembelajaran, hingga Platform Merdeka Mengajar. Mereka dipaksa beradaptasi dalam waktu singkat, sementara pelatihan yang diberikan sering kali hanya menyentuh permukaan. Ketika implementasi di lapangan kacau, lagi-lagi guru yang dianggap tidak kompeten.

Inilah akar masalah yang dibiarkan membusuk: kebijakan yang tidak berpijak pada realitas, birokrasi yang gemar menuntut laporan tetapi enggan turun mendengar, dan mentalitas mencari kambing hitam daripada memperbaiki sistem.

Guru Ingin Mengajar, Bukan Menjadi Perisai

Sungguh naif jika kita berharap pendidikan Indonesia melompat tinggi hanya dengan menyalahkan guru. Guru ingin mengajar. Guru ingin mendampingi anak-anak. Guru ingin menyalakan rasa ingin tahu dan membentuk karakter. Tetapi mereka tidak bisa melakukan itu semua sendirian, apalagi sambil terus-menerus dijadikan perisai dari kegagalan sistem.

Kita perlu berhenti menuntut guru menjadi "superhero" yang menyelesaikan semua masalah tanpa dukungan yang memadai. Sudah waktunya kita membalik arah kritik: bukan hanya bertanya apa yang salah dengan guru, tetapi apa yang salah dengan sistem yang kita bangun?

Merdeka Itu Berarti Berani Berbenah

Di usia kemerdekaan yang ke-81, kita perlu memaknai ulang arti merdeka dalam pendidikan. Merdeka bukan sekadar ganti kurikulum atau membanjiri guru dengan aplikasi digital. Merdeka adalah ketika guru punya ruang untuk mengajar dengan tenang. Merdeka adalah ketika kebijakan lahir dari mendengar, bukan dari menekan. Merdeka adalah ketika negara berani mengakui kesalahan sistem dan membenahinya dari akar, bukan terus-menerus membebankan semuanya kepada guru di ruang kelas.

Selama akar masalah masih dibiarkan membusuk, selama itu pula guru akan tetap menjadi obat nyamuk disemprotkan ke mana-mana, tetapi tidak pernah menyelesaikan sumber penyakitnya.

Penulis: Ridwanto Djahuno

Foto terkait