Di tengah perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, ada satu kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan: anak-anak kita semakin malas belajar, dan gurulah yang paling sering disalahkan. Ketika nilai turun, ketika minat baca melemah, ketika anak lebih memilih menatap layar daripada membuka buku, jari telunjuk publik hampir selalu mengarah ke ruang guru. Tapi, adilkah kita menimpakan semua itu kepada para pendidik?
Guru Bukan Satu-Satunya Kunci
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan guru sebagai kambing hitam atas menurunnya semangat belajar anak. Guru memang punya peran penting, tetapi mereka bukan satu-satunya penentu. Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam genggaman gawai, dibesarkan oleh algoritma media sosial, dan dikelilingi oleh konten-konten instan yang jauh lebih menggoda daripada materi pelajaran di sekolah.
Ketika seorang guru berusaha keras menjelaskan pentingnya membaca buku sejarah, di saat yang sama anak-anak justru lebih tertarik menonton video pendek berdurasi lima belas detik yang diulang-ulang. Ketika guru mengajarkan nilai kejujuran, anak-anak melihat sendiri bagaimana dunia maya justru memuja sensasi, pencitraan, dan keberanian untuk melanggar norma demi popularitas.
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah cukup hanya menyalahkan guru?
Pendidikan Karakter yang Mulai Kehilangan Pijakan
Pendidikan karakter sejatinya tidak berhenti di ruang kelas. Ia hidup di rumah, di lingkungan sekitar, dan di ruang-ruang digital yang setiap hari dikonsumsi anak. Sayangnya, ekosistem digital kita justru kerap menggerus nilai-nilai yang coba ditanamkan di sekolah.
Anak-anak tumbuh di era di mana kerja keras kalah menarik dibandingkan jalan pintas yang terlihat viral. Mereka menyaksikan bagaimana orang-orang yang gemar membuat konten tanpa makna bisa mendapatkan perhatian besar dan keuntungan materi. Sementara itu, guru yang mengajarkan nilai-nilai luhur harus bersaing dengan gemerlap layar yang menawarkan kesenangan instan.
Inilah kegagalan terbesar kita: kita ingin anak-anak berkarakter kuat, tetapi kita membiarkan mereka tumbuh dalam lingkungan yang justru merayakan hal-hal sebaliknya. Lalu, ketika karakter itu tidak terbentuk, kita mencari siapa yang bisa dipersalahkan. Dan gurulah yang paling mudah dijangkau.
Sekolah Bukan Mesin Ajaib
Kita juga perlu berhenti memperlakukan sekolah dan guru sebagai mesin ajaib yang bisa memperbaiki segalanya. Guru bukan penyihir yang bisa mengubah anak menjadi rajin hanya dengan tugas dan nasihat. Pendidikan adalah kerja bersama: keluarga, masyarakat, dan negara harus ikut ambil bagian.
Namun, mari kita lihat realitasnya. Berapa banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah karena sibuk bekerja? Berapa banyak dari kita yang lebih sering menatap ponsel daripada mengajak anak berbicara tentang nilai-nilai kehidupan? Berapa banyak lingkungan sosial yang benar-benar mendukung anak untuk tumbuh dengan kebiasaan belajar yang sehat?
Jika jawabannya minim, maka jangan heran jika anak-anak lebih memilih bersembunyi di balik layar daripada menghadapi pelajaran yang terasa jauh dari kehidupan mereka. Guru hanya punya beberapa jam di sekolah, sementara pengaruh lingkungan dan digital berlangsung hampir sepanjang hari.
Merdeka Belajar Harusnya Berarti Merdeka Bersama
Di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, kita perlu memaknai ulang semangat merdeka belajar. Merdeka bukan berarti membebaskan guru bekerja sendirian. Merdeka seharusnya berarti tanggung jawab bersama: negara menyediakan ekosistem yang sehat, keluarga memberikan teladan, dan masyarakat ikut menjaga ruang tumbuh anak.
Jangan salahkan guru jika anak malas belajar, sebab kemalasan itu lahir dari sistem yang lebih besar daripada sekadar ruang kelas. Jika kita serius ingin membangun generasi yang kuat, mulailah dengan berbenah bersama-sama. Guru butuh dukungan, bukan tudingan. Anak butuh teladan, bukan sekadar perintah.
Penulis: Mutmain Tangkudung