Di tengah semarak perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia, ada pertanyaan yang menggantung dan tidak bisa dijawab hanya dengan upacara dan seremonial: sudah siapkah guru-guru Indonesia menghadapi era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI)? Atau jangan-jangan, di tengah euforia kemerdekaan ini, kita justru sedang menyaksikan profesi guru perlahan-lahan tergilas oleh zaman yang bergerak terlalu cepat?
Perubahan yang Tak Bisa Ditolak
AI kini bukan lagi wacana masa depan. Ia sudah masuk ke ruang-ruang kelas, ke genggaman siswa, dan ke dalam cara anak-anak belajar. Platform pembelajaran daring, asisten virtual, hingga aplikasi yang mampu menjawab soal matematika dalam hitungan detik kini mudah diakses. Anak-anak kita sudah terbiasa bertanya kepada mesin, bukan lagi kepada guru.
Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Namun di sisi lain, ini adalah guncangan besar bagi dunia pendidikan. Guru yang selama ini diposisikan sebagai sumber pengetahuan utama, kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa informasi sudah bisa diperoleh siapa saja, kapan saja, tanpa perlu duduk di bangku kelas.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI akan menggantikan guru, melainkan apakah guru-guru kita siap berdampingan dengan AI? Atau justru mereka akan tersingkir karena tidak mampu beradaptasi?
Guru dan Mesin: Bukan Lawan, Tapi Rekan
Di banyak negara maju, AI justru dimanfaatkan untuk meringankan beban administratif guru. Tugas-tugas seperti penilaian otomatis, analisis perkembangan siswa, hingga rekomendasi materi belajar bisa ditangani mesin. Dengan begitu, guru punya lebih banyak waktu untuk fokus pada hal-hal yang tidak bisa dilakukan AI: membangun karakter, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mendampingi siswa secara emosional.
Namun, realitas di lapangan Indonesia masih jauh dari harapan itu. Banyak guru yang justru belum akrab dengan teknologi dasar, apalagi memahami cara kerja AI. Kesenjangan digital antarwilayah semakin memperlebar jurang. Di kota besar, sebagian guru sudah mulai memanfaatkan AI untuk membantu mengajar. Di pelosok, masih ada guru yang berjuang hanya untuk mendapatkan sinyal internet yang stabil.
Di sinilah letak masalahnya. Ketika dunia bergerak maju, sementara guru-guru kita dibiarkan berjalan di tempat, maka yang terjadi bukan sekadar ketertinggalan, melainkan ketergilasan.
Merdeka Belajar untuk Siapa?
Pemerintah kerap menggaungkan semangat Merdeka Belajar. Namun, semangat itu tidak akan pernah terwujud jika para gurunya sendiri tidak dimerdekakan dari buta teknologi. Merdeka Belajar seharusnya juga berarti Merdeka untuk Guru: merdeka mengakses pelatihan, merdeka mendapatkan fasilitas, dan merdeka untuk bertransformasi menjadi pendidik yang relevan dengan zamannya.
Sayangnya, pelatihan guru selama ini sering kali terjebak pada hal-hal administratif dan teoritis. Guru disibukkan dengan kewajiban mengumpulkan sertifikat, bukan benar-benar diberdayakan untuk memahami teknologi. Akibatnya, banyak yang tahu istilah AI, tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pilihan di Depan Mata
Di HUT ke-81 ini, kita harus jujur pada diri sendiri. Guru Indonesia sedang berada di persimpangan besar: merdeka atau tergilas zaman. Tidak ada jalan tengah. Jika kita terus menunda membekali guru dengan keterampilan digital yang mumpuni, maka kita sedang mempersiapkan generasi yang diajar oleh mesin, sementara guru-gurunya hanya menjadi penonton.
Namun, jika kita berani berinvestasi, memberi ruang, dan memperlakukan guru sebagai prioritas, maka era AI justru bisa menjadi peluang emas untuk melahirkan pendidikan yang lebih manusiawi. Guru yang terbantu oleh teknologi akan punya lebih banyak waktu untuk menyentuh hati siswa, bukan sekadar mengejar materi.
Kemerdekaan sejati bagi guru Indonesia bukanlah tentang menolak mesin, melainkan tentang kemampuan mengendalikannya. Bangsa ini tidak butuh guru yang takut pada AI. Bangsa ini butuh guru yang merdeka, siap, dan percaya diri menyambut masa depan.
Penulis: Idan I. Pakaya