
Persoalan tersebut menjadi perhatian para akademisi dan peneliti dalam upaya menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan. Hal tersebut disampaikan dalam Festival Pertanian Regeneratif 2026, yang menjadi ruang berbagi pengetahuan dan hasil inovasi dalam pengembangan pertanian berkelanjutan.
Peneliti Universitas Ichsan Gorontalo Utara (UIGU), Fardyansjah Hasan, S.P., M.Si., selaku anggota peneliti, memaparkan hasil riset mengenai penerapan Sistem Usahatani Konservasi (SUT Konservasi) sebagai salah satu alternatif solusi dalam menghadapi persoalan pengelolaan lahan pertanian jagung di Gorontalo.
Riset tersebut telah dilakukan sejak tahun 2024 dengan melibatkan Zulham Sirajuddin, Ph.D. sebagai ketua peneliti dan Fardyansjah Hasan, S.P., M.Si. sebagai anggota peneliti. Penelitian ini juga dilaksanakan melalui kemitraan dengan PT Syngenta, salah satu perusahaan yang bergerak dalam industri benih dan teknologi pertanian.
Dalam pemaparannya, Fardyansjah Hasan, S.P., M.Si. menjelaskan bahwa pengembangan budidaya jagung perlu diarahkan pada sistem produksi yang mampu menjaga keseimbangan antara peningkatan hasil pertanian dan kelestarian lingkungan.
“Budidaya jagung tidak hanya berbicara tentang bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana menjaga tanah agar tetap produktif dalam jangka panjang. Karena itu, penerapan sistem usahatani konservasi menjadi salah satu pendekatan yang kami kaji untuk menjawab persoalan tersebut,” ujar Fardyansjah Hasan, S.P., M.Si.
Menurutnya, praktik pertanian yang kurang memperhatikan kondisi tanah dapat menyebabkan berbagai persoalan dalam jangka panjang, termasuk erosi dan menurunnya kualitas lahan. Oleh sebab itu, diperlukan perubahan pendekatan dalam pengelolaan lahan agar petani tetap memperoleh hasil optimal tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya pertanian.
Fardyansjah menambahkan bahwa hasil riset yang dilakukan bersama tim diharapkan dapat memberikan alternatif teknologi dan pendekatan pengelolaan lahan yang lebih adaptif terhadap kondisi pertanian di Gorontalo.
“Kami berharap hasil penelitian ini tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi petani. Konsep konservasi harus dapat diterapkan secara praktis sehingga produktivitas tetap terjaga sekaligus mampu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, Zulham Sirajuddin, Ph.D., selaku ketua peneliti, menyampaikan bahwa riset tersebut merupakan bagian dari upaya membangun model pertanian yang lebih berkelanjutan melalui integrasi antara pengetahuan akademik, kebutuhan petani, dan dukungan dunia industri.
“Pertanian regeneratif menuntut kita untuk tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memikirkan bagaimana tanah dan lingkungan dapat terus mendukung produksi pertanian pada masa yang akan datang. Karena itu, pendekatan konservasi menjadi bagian penting dalam membangun sistem pertanian yang berkelanjutan,” ungkap Zulham Sirajuddin, Ph.D.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan riset pertanian. Perguruan tinggi memiliki peran dalam menghasilkan pengetahuan dan inovasi berbasis penelitian, sementara mitra industri dapat mendukung penerapan dan pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Kolaborasi ini menjadi penting karena persoalan pertanian tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara peneliti, perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan tentunya petani sebagai pelaku utama pertanian,” jelas Zulham Sirajuddin, Ph.D.
Penerapan Sistem Usahatani Konservasi (SUT Konservasi) dalam riset tersebut dirancang untuk memperbaiki kualitas lingkungan melalui berbagai upaya, antara lain pencegahan erosi, pemeliharaan kesuburan tanah, menjaga stabilitas lahan, serta meningkatkan hasil produksi pertanian.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjawab tantangan pengelolaan lahan jagung di Provinsi Gorontalo, khususnya dalam menghadapi persoalan degradasi tanah dan pengelolaan sisa hasil panen.
Festival Pertanian Regeneratif 2026 menjadi momentum penting bagi para peneliti untuk memperkenalkan hasil penelitian sekaligus mendorong diskusi mengenai masa depan pertanian Gorontalo. Kehadiran hasil riset tersebut juga menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung inovasi pertanian yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.
Melalui riset dan kolaborasi lintas institusi, diharapkan pengembangan komoditas jagung di Gorontalo tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kualitas sumber daya lahan untuk generasi mendatang.
Penulis
F38r4h