GORONTALO – Semangat membangun pendidikan yang inklusif, berkarakter, dan berorientasi pada keberagaman budaya menjadi perhatian dalam Seminar Ilmiah Cross Cultural Understanding (CCU) dan Kepemimpinan yang diselenggarakan di SD Negeri 6 Telaga, Kabupaten Gorontalo, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Pelestarian Bahasa Daerah & Peran Pemimpin” tersebut menghadirkan Idan I. Pakaya, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber. Dalam pemberitaan yang mengangkat perspektif Universitas Ichsan Gorontalo Utara, pembahasan ini menjadi relevan dengan peran perguruan tinggi dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan karakter generasi muda.
Melalui materi bertajuk “Membangun Kepemimpinan Pendidikan Berbasis Pemahaman Lintas Budaya: Integrasi CCU dan Kepemimpinan untuk Pembelajaran Inklusif dan Berdampak”, Idan menguraikan pentingnya memahami keberagaman sebagai fondasi utama dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang adil, terbuka, dan menghargai setiap peserta didik.
Keberagaman dalam dunia pendidikan mencakup perbedaan bahasa, budaya, latar belakang keluarga, pengalaman sosial, karakter, hingga kebutuhan belajar. Kondisi tersebut menuntut tenaga pendidik dan pemimpin pendidikan agar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu membangun lingkungan yang memberikan kesempatan belajar setara bagi seluruh peserta didik.
Salah satu pembahasan penting dalam materi seminar adalah konsep Cross Cultural Understanding yang meliputi kesadaran budaya, empati, komunikasi inklusif, serta refleksi kritis terhadap prasangka dan stereotip.
Pemahaman lintas budaya dipandang sebagai kompetensi yang perlu dimiliki oleh pendidik dan calon pemimpin pendidikan agar mampu menjembatani perbedaan sekaligus menjadikannya sebagai kekuatan dalam proses pembelajaran.
Selain itu, Idan mengangkat konsep kepemimpinan pendidikan transformatif yang menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kedudukan atau jabatan, melainkan kemampuan menggerakkan perubahan melalui keteladanan, kolaborasi, keputusan yang beretika, serta perbaikan berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan dasar, sinergi antara kepala sekolah, guru, dan mahasiswa memiliki peranan strategis. Kepala sekolah berperan membangun visi dan budaya sekolah, guru menjadi penggerak utama pembelajaran, sedangkan mahasiswa dapat berkontribusi melalui inovasi serta keterlibatan aktif dalam kegiatan pendidikan.
Materi seminar juga menyoroti implementasi pembelajaran inklusif melalui program UNG Mengajar Batch 10, khususnya dalam penguatan literasi, numerasi, dan pembentukan karakter peserta didik.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang berdampak harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi lingkungan sekolah, sekaligus memanfaatkan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual.
Bagi lingkungan akademik Universitas Ichsan Gorontalo Utara, gagasan mengenai kepemimpinan pendidikan dan pemahaman lintas budaya dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat pengembangan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam membangun kepekaan sosial, kemampuan berkomunikasi, dan jiwa kepemimpinan.
Melalui penguatan nilai-nilai tersebut, perguruan tinggi diharapkan terus berkontribusi terhadap lahirnya generasi pendidik dan pemimpin masa depan yang mampu menghargai perbedaan serta menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.
Seminar ini menegaskan pentingnya kolaborasi antarelemen pendidikan untuk menciptakan proses pembelajaran yang tidak hanya mengedepankan kecerdasan intelektual, tetapi juga menjunjung nilai kemanusiaan, keberagaman, dan karakter.
Memahami keberagaman, memimpin dengan keteladanan, dan menghadirkan pendidikan yang bermakna menjadi pesan utama dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih inklusif dan berdampak.


